Home

Senin, 05 Juli 2010

Titrasi Asam Basa

Titrasi merupakan suatu metoda untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah dikethaui konsentrasinya. Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi, sebagai contoh bila melibatan reaksi asam basa maka disebut sebagai titrasi asam basa, titrasi redox untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi, titrasi kompleksometri untuk titrasi yang melibatan pembentukan reaksi kompleks dan lain sebagainya. (disini hanya dibahas tentang titrasi asam basa)
Zat yang akan ditentukan kadarnya disebut sebagai “titrant” dan biasanya diletakan di dalam Erlenmeyer, sedangkan zat yang telah diketahui konsentrasinya disebut sebagai “titer” dan biasanya diletakkan di dalam “buret”. Baik titer maupun titrant biasanya berupa larutan.
a. Prinsip Titrasi Asam basa
Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer ataupun titrant. Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya.
Titrant ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan ekuivalen ( artinya secara stoikiometri titrant dan titer tepat habis bereaksi). Keadaan ini disebut sebagai “titik ekuivalen”.
Pada saat titik ekuivalent ini maka proses titrasi dihentikan, kemudian kita mencatat volume titer yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Dengan menggunakan data volume titrant, volume dan konsentrasi titer maka kita bisa menghitung kadar titrant.
b. Cara Mengetahui Titik Ekuivalen
Ada dua cara umum untuk menentukan titik ekuivalen pada titrasi asam basa.
1) Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi dilakukan, kemudian membuat plot antara pH dengan volume titrant untuk memperoleh kurva titrasi. Titik tengah dari kurva titrasi tersebut adalah “titik ekuivalent”.
2) Memakai indicator asam basa. Indikator ditambahkan pada titrant sebelum proses titrasi dilakukan. Indikator ini akan berubah warna ketika titik ekuivalen terjadi, pada saat inilah titrasi kita hentikan.
Pada umumnya cara kedua dipilih disebabkan kemudahan pengamatan, tidak diperlukan alat tambahan, dan sangat praktis.
Indikator yang dipakai dalam titrasi asam basa adalah indicator yang perbahan warnanya dipengaruhi oleh pH. Penambahan indicator diusahakan sesedikit mungkin dan umumnya adalah dua hingga tiga tetes.
Untuk memperoleh ketepatan hasil titrasi maka titik akhir titrasi dipilih sedekat mungkin dengan titik equivalent, hal ini dapat dilakukan dengan memilih indicator yang tepat dan sesuai dengan titrasi yang akan dilakukan.
Keadaan dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat perubahan warna indicator disebut sebagai “titik akhir titrasi”.
c. Rumus Umum Titrasi
Pada saat titik ekuivalen maka mol-ekuivalent asam akan sama dengan mol-ekuivalent basa, maka hal ini dapat kita tulis sebagai berikut:
mol-ekuivalen asam = mol-ekuivalen basa
Mol-ekuivalen diperoleh dari hasil perkalian antara Normalitas dengan volume maka rumus diatas dapat kita tulis sebagai:
NxV asam = NxV basa
Normalitas diperoleh dari hasil perkalian antara molaritas (M) dengan jumlah ion H+ pada asam atau jumlah ion OH- pada basa, sehingga rumus diatas menjadi:
nxMxV asam = nxVxM basa
keterangan :
N = Normalitas
V = Volume
M = Molaritas
n = jumlah ion H+ (pada asam) atau OH – (pada basa)

Sabtu, 03 Juli 2010

Proses Pembentukan Tanah

Tanah terdapat di mana-mana. Perhatikan lingkungan disekitarmu! Tanah terdapat dihalaman dirumahmu, di halaman sekolahmu, di kebun, atau dipinggir jalan. Tamah menjadi bagian penting bagi kelangsungan makhluk hidup. Tanah menjadi tempat berpijak, tempt mendirikan bangunan, tempat bercocok tanam, dan tempat memelihara hewan. Tanah merupakan unsur permukaan bumi yang sangat penting untuk kehidupan di muka bumi. Tanah adalah lapisan atas bumi yang berbentuk dari berbagai canpuran, yaitu pelapukan batuan induk (anorganis) dan tumbuhan serta binatang yang sudah mati (organis). Bagaimana tanah bisa terbentuk? Dan dari mana asal tanah?
Pada dasarnya tanah berasal dari hasil pelapukan dan pengendapan batuan-batua (bahan anorganik) yang dalam prosesnya telah bercampur dengan bahan-bahan organik. Pelapukan adalah rusaknya batuan dari buriran besar menjadi butiran kecil bahkan halus.
Faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya pelapukan batuan, yaitu keadaan struktur batuan dan iklim. Ada beberapa cara pelapukan atuan, antara lain sebagai berikut.

1. Pelapukan fisik adalah peristiwa pemecahan batuan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil karena pengaruh tenaga luar, dapat berupaya sinar matahari maupun angin.
a. Batuan dapat mengalami pelapukan dan pengikisan. Pelapukan batuan dapat terjadi akibat perbedaan suhu antara siang dan malam. Pada siang hari, batuan dapat atau akan mengalami pemanasan karena sinar mata hari sehingga mengembang. Pada malam hari, batuan akan mengalami pendinginan sehingga mengerut. Berarti, batuan akan mengembang dan mengerut secara bergantian pada siang dan malam hari. Lama – kelamaan batuan tersebut akan menjadi retak dan bisa pecah. Pecahan batuan yang berupa berkepin-kepingan yang sangat kecil itu akan berubah menjadi kerikil dan pasir lalu menjadi debu.
b. Pembentukan air didalam celah-celah batuan. Air dalam keadaan cair akan bertambah volumenya jika membeku menjadi es. Oleh karena itu, air yang membeku didalam celah-celah batuan dapat menekan batuan sehingga pecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.

2. Pelapukan biologis adalah proses perusakan atau penghancuran batuan-batuan yang disebabkan oleh kegiatan organisme baik tumbuhan atau hewan, misalnya akar pohon, rayap, dan semut yang masuk celah-celah batuan.

3. Pelapukan kimia
Pelapukan kimia adalah pelapukan yang disebabkan bahan kimia yang bersifat melapukan. Salah satu contoh penyebab pelapukan adalah hujan asam. Hujan asam terjadi dari gas polusi industri yang bereaksi dengan uap air di angkasa. Sedikit demi sedikit tetesan hujan asam dapat ”melarutkan” batuan atau bangunan.

Proses Pembebtukan Tanah

Tanah terdapat di mana-mana. Perhatikan lingkungan disekitarmu! Tanah terdapat dihalaman dirumahmu, di halaman sekolahmu, di kebun, atau dipinggir jalan. Tamah menjadi bagian penting bagi kelangsungan makhluk hidup. Tanah menjadi tempat berpijak, tempt mendirikan bangunan, tempat bercocok tanam, dan tempat memelihara hewan. Tanah merupakan unsur permukaan bumi yang sangat penting untuk kehidupan di muka bumi. Tanah adalah lapisan atas bumi yang berbentuk dari berbagai canpuran, yaitu pelapukan batuan induk (anorganis) dan tumbuhan serta binatang yang sudah mati (organis). Bagaimana tanah bisa terbentuk? Dan dari mana asal tanah?
Pada dasarnya tanah berasal dari hasil pelapukan dan pengendapan batuan-batua (bahan anorganik) yang dalam prosesnya telah bercampur dengan bahan-bahan organik. Pelapukan adalah rusaknya batuan dari buriran besar menjadi butiran kecil bahkan halus.
Faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya pelapukan batuan, yaitu keadaan struktur batuan dan iklim. Ada beberapa cara pelapukan atuan, antara lain sebagai berikut.

1. Pelapukan fisik adalah peristiwa pemecahan batuan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil karena pengaruh tenaga luar, dapat berupaya sinar matahari maupun angin.
a. Batuan dapat mengalami pelapukan dan pengikisan. Pelapukan batuan dapat terjadi akibat perbedaan suhu antara siang dan malam. Pada siang hari, batuan dapat atau akan mengalami pemanasan karena sinar mata hari sehingga mengembang. Pada malam hari, batuan akan mengalami pendinginan sehingga mengerut. Berarti, batuan akan mengembang dan mengerut secara bergantian pada siang dan malam hari. Lama – kelamaan batuan tersebut akan menjadi retak dan bisa pecah. Pecahan batuan yang berupa berkepin-kepingan yang sangat kecil itu akan berubah menjadi kerikil dan pasir lalu menjadi debu.
b. Pembentukan air didalam celah-celah batuan. Air dalam keadaan cair akan bertambah volumenya jika membeku menjadi es. Oleh karena itu, air yang membeku didalam celah-celah batuan dapat menekan batuan sehingga pecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.

2. Pelapukan biologis adalah proses perusakan atau penghancuran batuan-batuan yang disebabkan oleh kegiatan organisme baik tumbuhan atau hewan, misalnya akar pohon, rayap, dan semut yang masuk celah-celah batuan.

3. Pelapukan kimia
Pelapukan kimia adalah pelapukan yang disebabkan bahan kimia yang bersifat melapukan. Salah satu contoh penyebab pelapukan adalah hujan asam. Hujan asam terjadi dari gas polusi industri yang bereaksi dengan uap air di angkasa. Sedikit demi sedikit tetesan hujan asam dapat ”melarutkan” batuan atau bangunan.